Notice: Trying to access array offset on value of type bool in /home/infotoraja/public_html/v2/wp-content/plugins/td-cloud-library/smart_lists/tdb_smart_list_5.php on line 66
BerandaOpiniWisata Toraja Bukan untuk "Alay"!

Wisata Toraja Bukan untuk “Alay”!

Awal tahun kemarin (Januari 2015) saya berkunjung ke salah satu objek wisata di Toraja Utara, yaitu Salib Raksasa yang terletak di Bukit Singki’. Ini adalah kali pertama mendaki bukit ini sejak lulus SD. Sudah belasan tahun saya tak menapakan kaki di puncak bukit yang terkenal dengan batu kodok nya itu.

Salib Raksasa di puncak bukit menjadi daya tarik bagi wisatawan ataupun muda-mudi Toraja yang ingin menikmati “kemolekan” sungai Sa’dan, hijau nya area persawahan dan kokohnya pegunungan di timur yang seolah membentengi kota kecil ini, serta tak lupa sunrise yang menjadikannya lebih eksotis.

Sayangnya keindahan yang bisa kita nikmati dari atas tak senyaman apa yang bisa kita temukan di bukit itu sendiri. Miris! Sampah berserahkan dan bentuk eksistensi konyol yang “menghiasi” dinding tembok landasan salib menandakan bahwa penjajahan “pasukan alay” masih berkuasa di Toraja.

Corat-coret di dinding landasan seolah menjadi saksi sejarah bahwa “invasi pasukan alay” berhasil menjajah tempat ini, layaknya pasukan militer yang mengibarkan bendera di wilayah yang berhasil mereka kuasai.

Entah apa yang kaum ini pikirkan saat memutuskan untuk menulis nama mereka, nama geng, nama daerah asal atau apalah itu. Jika kamu (alay) merasa ini keren, coba periksakan kondisi kejiwaan mu!

 

***

Kembali

2. Eksis di Tengkorak

Beberapa waktu lalu, akun Instagram InfoToraja me-regram foto milik Julie Kirey. Di foto ini terlihat dengan jelas hasil karya kaum alay ternyata bukan sebatas pada dinding tembok saja. Lihat saja tengkorak yang sakral bagi orang Toraja juga jadi korban eksistensi konyol mereka. 

Sungguh sangat biadab kaum ini!

Semoga leluhur segera memanggilmu (alay)!

***

Kembali

14 KOMENTAR

  1. Tidak slh lagi klo pasukan alay itu adalah sekelompok orang yang norak dan kampungan.Mengukir nama ataupun geng yang tidk dikenal itu sbuah kebaanggan bagi mereka.Salh satu jajahan norak para alay adl agrowisata pango2…GILA!!!.

  2. Memprihatinkan.. Norak.., jujur kadang jengkel dan jijik mlihatnya. Patung yg di Burake yg msih dalam tahap penyelesaian sdh penuh dengan tulisan norak dan menjijikkan..

  3. “Mungkin bagus kalau ada satpam yang rutin menjaga di setiap tempat wisata. Di daerah2 lain aja satpamnya digaji khusus pemerintah. Mungkin itu baik, khususnya di tempat wisata yang ramai. Kurre sumanga’ “

  4. Sudah hidup di kampung pola pemikirannya sangat primitif lg. Bro kalau mau terkenal isi kreatif fikiran mu ko tuangka di kafas kah atau apalah yg bisa menghasilkan dan bisa di hargai orang lain. Kalau ko masih terus begini. Ko akan hidup dengan makian dan celaan.

  5. Kita doa kan mereka2 yg melakukan spy bisa sadar dan merasa memiliki krn semua itu untuk kita semua dan utk anak cucu kita kedepan…

  6. Waduu,, kasian mereka,
    Mau jadi terkenal tapi salah tempat, eee broww klw mau terkenal jadi seorang grafitty, pelukis, atau apalah yg brsangkutan dgn tulisan tulisan jgn situ tempatnya bro, salah t4 kau bro, jgn pakai spidol brow gak enak bacanya, tulisan mu kayak tulisan anak kecil, tulisan mu gak ada seninya.

  7. Saya terakhir naik ke atas buntu burake pada tnggl 20-07-2015, hari itu sya sma kk sya jlan2 ke atas buntu burake dan gk sngja ngelihat kaum alay lg nulis2 nama mreka di landasan patung, pas sya tgur jngan coret2 di situ mreka langsun marah, trus sya bilang mmangnya itu di buat untuk kalian coret2, mreka langsun marah dan brkata siapa Ɣa̶n̶Ǧ larang kalo kami coret2 di sini, sya mau ngelawan tpi takut di gebukin jadi sya diam dan prgi dari tmpat itu. BUAT ALAY tolong lah jga keindahan wisata alam kita di toraja, jngan krna mau trknal trus jadi kampungan…..

  8. Tak ada yang melarang bergaya alay asalkan tahu etika dan tidak merusak lingkungan. Tapi sebagian dari masyarakat khususnya kaum muda yang bergaya alay namun tidak bisa menjaga lingkungan. #indonesia #kaya #alay

  9. Brengsek…itulah ungkapan pertama yg keluar dari bibir ketika melihat coretan pada dinding patung Tuhan Yesus di Buntu Burake gimana nantinya kalau patung itu uda selesai apa mereka masi melakukan hal serupa semoga kita semua sadar bahwa itu adalah icon orang Toraja dan umat kristen Toraja yg perlu dijaga biar tetap indah…

Tinggalkan Balasan