Suasana kebersamaan masyarakat Toraja di Depok (Photo by : Michael Daud Tonda)
Suasana kebersamaan masyarakat Toraja di Depok terasa lebih semangat pagi ini. Tepat hari ini 14 Mei 2016 gereja Toraja jemaat Depok merayakan hari ulang tahun ke-16.
Dalam rangka memeriahkan HUT Getor Depok dilaksanakan kegiatan sepeda santai. Kegiatan ini diikuti kurang lebih 60 pesepeda. Acara ini dibuka oleh ketua DPRD Kota Depok Hendrik Tangkeallo yang juga menjabat sebagai Ketua IKAT (Ikatan Keluarga Toraja) Depok.
Bapak Barnabas, salah satu peserta fun bike berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin agar lebih terjalin hubungan yang lebih dekat antar masyarakat Toraja di Depok dan tentunya masyarakat dapat lebih hidup sehat.
Melanjutkan kegiatan HUT gereja Toraja jemaat Depok, akan dilaksanakan kegiatan menanam pohon bersama dan aksi bersih-bersih disekitar Gereja.
Dari Depok Jawa Barat masyarakat Toraja menyapa sang-Torayan dimanapun berada, salama’. (mt)
Erwin Lobo, Putra Toraja yang Jadi Lurah Pondok Kopi, Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab dipanggil Ahok memilih banyak anak muda untuk menjadi lurah di Jakarta. Salah satu pilihan Ahok adalah seorang putra Toraja bernama Erwin Lobo.
Sebelum menjadi CPNS, Erwin Lobo mengawali karir di Jakarta sebagai wartawan selama 9 tahun dari 2001 hingga 2009. Pada tahun 2009 dia melihat ada lowongan PNS DKI dan kemudian melamarnya. Setelah mengikuti serangkaian tes, sarjana teknik sipil Universitas Mataram ini lolos seleksi dan langsung menjadi CPNS sejak 2010.
Awalnya Lobo ditugaskan di Dinas Kominfomas DKI Jakarta dan dua tahun lalu dipindahkan di BPKD. Pada November lalu, sarjana utama (S-2) dari Universitas Indonedia (UI) mengikuti tes seleksi lurah dan lolos lagi sehingga akhirnya dia terpilih untuk memimpin Kelurahan Pondok Kopi. Meski lokasi kerja berjauhan dari tempat tinggal, namun Lobo yang sehari-hari tinggal di kawasan Ciputat tetap bersemangat melayani masyarakat.
Dia bersyukur di era pemerintahan Gubernur Ahok, bahwa pelantikan jabatan tidak selalu berdasarkan urut kacang. Menurutnya semua PNS memiliki kesempatan yang sama untuk meniti karir selama memenuhi persyaratan dan juga lolos seleksi.
Sejak dilantik menjadi lurah pada Januari 2016, kini posisi Erwin Lobo pun meningkat dari staf non-eselon menjadi pejabat eselon IV.
Sebelum memutuskan menjadi PNS, bapak dua anak ini sempat punya cita-cita menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun keinginan nya itu gagal ia wujudkan karena dirinya tidak masuk dalam persyaratan. Walau demikian, dia tetap bersyukur dengan jalan hidupnya saat ini.
Pilihan karir kini mengantarkannya mendapat tugas baru untuk memimpin kelurahan Pondok Kopi. Mari kita doakan, semoga beliau bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai lurah dengan baik, jujur dan bersih. Salama’
Coretan di Salib Raksasa Singki', Patung Yesus Burake dan Tengkorak
Awal tahun kemarin (Januari 2015) saya berkunjung ke salah satu objek wisata di Toraja Utara, yaitu Salib Raksasa yang terletak di Bukit Singki’. Ini adalah kali pertama mendaki bukit ini sejak lulus SD. Sudah belasan tahun saya tak menapakan kaki di puncak bukit yang terkenal dengan batu kodok nya itu.
Salib Raksasa di puncak bukit menjadi daya tarik bagi wisatawan ataupun muda-mudi Toraja yang ingin menikmati “kemolekan” sungai Sa’dan, hijau nya area persawahan dan kokohnya pegunungan di timur yang seolah membentengi kota kecil ini, serta tak lupa sunrise yang menjadikannya lebih eksotis.
Sayangnya keindahan yang bisa kita nikmati dari atas tak senyaman apa yang bisa kita temukan di bukit itu sendiri. Miris! Sampah berserahkan dan bentuk eksistensi konyol yang “menghiasi” dinding tembok landasan salib menandakan bahwa penjajahan “pasukan alay” masih berkuasa di Toraja.
Corat-coret di dinding landasan seolah menjadi saksi sejarah bahwa “invasi pasukan alay” berhasil menjajah tempat ini, layaknya pasukan militer yang mengibarkan bendera di wilayah yang berhasil mereka kuasai.
Entah apa yang kaum ini pikirkan saat memutuskan untuk menulis nama mereka, nama geng, nama daerah asal atau apalah itu. Jika kamu (alay) merasa ini keren, coba periksakan kondisi kejiwaan mu!
Beberapa waktu lalu, akun Instagram InfoToraja me-regram foto milik Julie Kirey. Di foto ini terlihat dengan jelas hasil karya kaum alay ternyata bukan sebatas pada dinding tembok saja. Lihat saja tengkorak yang sakral bagi orang Toraja juga jadi korban eksistensi konyol mereka.
Sungguh sangat biadab kaum ini!
Semoga leluhur segera memanggilmu (alay)!
***
“Invasi Pasukan Alay” di Patung Yesus Memberkati, Buntu Burake, Tana Toraja
Buntu Burake, dulunya hanya sebatas nama bukit. Kini nama Buntu Burake semakin eksis di berbagai media. Patung Yesus Memberkati yang (katanya) tertinggi di dunia mengalahkan patung Yesus di Rio de Janeiro Brasil menjadi ikon wisata baru yang menggaungkan nama Bukit ini.
Wisatawan berbondong-bondong mendatangi tempat ini. Mereka datang dari berbagai daerah. Tak lupa untuk selalu eksis yang juga secara tak langsung ikut mempromosikan Burake dengan foto-foto yang diunggah di berbagai media sosial.
Namun, lagi-lagi “pasukan alay” berhasil menjajah tempat ini.
Melalui instagram, realita berkuasanya kaum alay di Toraja bisa kita lihat di foto milik Samuel Ramba yang juga merasa miris dengan vandalisme di dinding landasan Patung Yesus di Toraja :
Kenyataan Pahit dibalik serunya selfie atau groufie atau apalah namanya di lokasi yang paling hits saat ini Patung Tuhan Yesus di Buntu Burake Makale.. Terakhir kesana pas bulan november lalu, yang saya temukan sangat membuat sedih.. Belum apa2, icon besar ini sudah penuh dengan coretan2 gak jelas dari orang2 yang tidak bertanggung jawab. Tidak bermaksud apa2 tapi perbuatan siapa lagi selain anak2 toraja sendiri… Kesadaran mereka masih kurang, bahkan terkesan (maaf)norak dan kampungan. Belum lagi melihat keadaannya sekarang gmn, cuma harapan saya semoga setlah dibenahi, saya dengan pribadi berharap kepada tangan2 jahil norak dan kampungan itu tidak mengotori lagi icon ini…
Harapan Samuel Ramba tentunya jadi harapan kita semua masyarakat, khususnya generasi muda yang peduli dengan lingkungan dan harapan bangkitnya wisata Toraja.
***
Jika kalian (pelaku vandal) membaca tulisan ini, kesehatan kamu sepertinya terganggu.
Jika kamu merasa keren dengan cara ini, kamu salah besar!
Jika kamu ingin terkenal, tolong jangan dengan cara seperti ini.
Aksi 1000 Guru di Toraja (Dok. 1000 Guru Makassar)
Mencerdaskan bangsa dengan berbagai cara terus dilakukan oleh para generasi muda Indonesia, salah satunya yang dilakukan oleh para 1000 guru regional Makassar yang tergabung dari berbagai profesi seperti dokter, perawat, karyawan swasta, pegawai negeri, karyawan BUMN, serta dari profesi lainnya yang memfokuskan diri untuk terus membangun pendidikan yang ada di Indonesia.
Program aksi 1000 guru yang berjudul travelling and teaching yang diadakan selama tiga hari ini mengunjungi salah satu sekolah dasar kategori terpencil yang ada di kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan yang berjarak kurang lebih 30 kilo meter dari kota Rantepao.
Sekolah Dasar 8 Tikala menjadi tempat aksi 1000 guru ini, dikarenakan menurut informasi bahwa anak-anak sekolah di SDN 8 Tikala setelah mengenyam pendidikan dasar mereka tidak lagi melanjutkan sekolah mereka. Sekolah dasar negeri 8 Tikala ini berjumlah 136 siswa yang terdiri dari kelas 1 hingga kelas 6, aksi 1000 guru memotivasi dan mengajar para siswa siswi tentang bahasa inggris, ilmu pengetahuan umum, bahasa Indonesia dan mata pelajaran lainnya.
Aksi 1000 Guru di Toraja (Dok. Jufri Tonapa)
Antusias para siswa tersebut terlihat dari siswa melakukan cap jari mereka ke papan yang disediakan sebagai tanda mereka akan terus semangat melanjutkan sekolah untuk menggapai cita-cita. Menurut Andi Appi Patongai, selaku koordinator 1000 guru regional Makassar, bahwa aksi ini guna memotivasi siswa untuk lebih giat lagi belajar dan termotivasi untuk melanjutkan sekolah mereka ke tingkat sekolah lanjutan. Mata pelajaran yang diberikan kami kemas semenarik mungkin untuk menarik para siswa siswi memahami yang diajarkan.
Sedangkan menurut kepala sekolah dasar negeri delapan Tikala, Sarjani La’lang, mengatakan bahwa hal ini menjadikan guru yang ada termotivasi untuk tetap mengajar, dan agar siswa tetap giat dan semangat untuk belajar. Aksi 1000 guru ini disambut antusias oleh warga dan pihak sekolah dasar negeri 8 Tikala, penyambutan dilakukan dengan tarian penyambutan khas suku Toraja. (Jufri Tonapa)
Photo : TOSA Toraja One Stop Adventure - @torajaonestopadventure
Salah satu cara menikmati alam Toraja adalah dengan kegiatan arum jeram dengan garde III di Sungai Maiting. Sungai ini terdapat di desa Dende’ Ma’dong, Toraja. Penduduk desanya tergolong ramah dan terkenal sebagai penganyam Tuyu (Sejenis rumput yang menjadi bahan untuk membuat tikar). Untuk mencapai sungai, kita harus menuruni lembah. Sepanjang perjalanan, anda akan dimanjakan oleh pemandangan nan eksotis dengan hawa yang sangat sejuk .
Jeram pertama yang ditemui saat pengarungan adalah jeram “Indo'” dan jeram “Sella”. Nama ini diambil dari nama salah satuperusahaan yang bergerak di bidang pariwisata yaitu Indo’ Sella’ Ekspedition yang berkantor di Rantepao. Jeram kedua yang ditemui ialah jeram “Tabrakan”. Dinamakan “tabrakan” karena untuk melewatinya perahu harus menabrak batu besar terlebih dahulu. Sepanjang pengarungan, anda akan menikmati pemandangan yang begitu indah. Salah satu yang sangat menarik ialah air terjun bertingkat yang dinamai air terjun Kura. Selain itu, juga akan terlihat banyak iguana yang merayap di bebatuan sungai.
Biasanya, para pengarung sungai maiting makan siang di tempat yang mirip “pantai” dengan pasir putih dan aliran sungai yang sedikit rata. Salah satu jeram lain yang terkenal ialah jeram “mulut iguana”. dinamakan begitu karena terdapat batu yang menganga yang katanya mirip mulut iguana. Selain itu, masih banyak jeram-jeram lain yang akan ditemui sepanjang pengarungan. Titik akhir pengarungan di sungai ini adalah Desa Tapparan.
Sumber : http://biviadventure.blogspot.co.id/2011/02/sungai-maiting-grade-class-iii.html
Seorang penjual kopi Toraja. Sumber foto : socialeone.blogspot.co.id
Jika berkunjung ke Toraja, jangan lupa meluangkan sedikit waktu dan uang saku kamu untuk membeli kopi asli Toraja. Kopi dari Sulawesi ini memiliki aroma yang kaya, tingkat keasaman yang seimbang (agak sedikit lebih kuat dari kopi Sumatra) dan memiliki ciri yang multidimensional.
Kopi Toraja memiliki ciri warna coklat tua. Kopi ini cocok untuk digoreng hingga warnanya gelap. Karena proses produksinya, kopi ini dapat mengering secara tidak teratur. Walau demikian biji yang bentuknya tidak teratur ini dapat memperkaya rasanya.
Kopi Toraja bisa kamu beli di pasar sekitar Rantepao dan Makale. Ada dua varietas kopi Toraja yang bisa kamu pilih, yaitu arabica dan/atau robusta. Selain dalam bentuk bubuk siap seduh, beberapa penjual kopi juga menyediakan kopi Toraja yang masih dalam bentuk biji.
Photo from cikopi.com
Ohy, pada tahun 2012, salah satu jenis kopi Toraja, yaitu kopi Toraja Sapan telah berhasil memecahkan rekor sebagai KOPI TERMAHAL yang pernah dijual lelang. Saat itu harga kopi Toraja Sapan Spesialti harganya US$ 45 per kg, saat itu harga kopi rata-rata hanya US$ 6-8 kg per kg.
Kopi Toraja juga bisa dibeli secara online melalui distributor kopi Toraja yang melayani pengiriman ke berbagai daerah di Indonesia bahkan hingga mancanegara.
Rumah sebagai tempat tinggal memiliki fungsi dan peranan sosial bagi penghuninya. Masyarakat Toraja mengenal dua golongan rumah, yaitu Banua Tongkonan (rumah adat) dan Banua Barung-Barung (rumah pribadi atau rumah biasa). Tongkonan adalah rumah tempat tinggal sekaligus tempat menjalankan fungsi dan peranan penguasa adat, sehingga kerap disebut rumah adat. Barung-barung merupakan tempat tinggal keluarga yang bukan penguasa.
Arsitektur tongkonan cukup unik ditilik dari bentuk atap dan penampilan bangunan. Ciri khas ini turun temurun dari nenek moyang dan tetap dipertahankan hingga sekarang. Ada empat tahap proses panjang perkembangan rumah adat Toraja sebelum akhirnya terbentuk menjadi tongkonan, yaitu:
1. Banua Pandoko Dena
Rumah bentuk burung pipit yang masih sangat sederhana, merupakan rumah yang terdapat di pohon, terbuat dari ranting kayu yang diletakkan di atas dahan dengan dinding dan atap yang terbuat dari rumput berbentuk bundar seperti sarang burung pipit. Rumah ini berfungsi sebagai perlindungan dari cuaca panas/hujan dan gangguan hewan buas.
2. Banua Lentong A’pa
Rumah ini menggunakan 4 tiang dengan atap dan dinding yang masih menggunakan dedaunan. Saat ini Banua Lentong A’pa dimanfaatkan sebagai pondok kecil untuk kandang ternak.
3. Banua Tamben
Banua Tamben merupakan rumah yang terbuat dari kayu dengan bentuk atap yang menyerupai perahu pada kedua ujungnya dan menjulang ke atas.
4. Banua Toto atau Banua Sanda ‘Ariri
Bentuk rumah Banua Toto adalah persegi panjang dengan tiang yang jumlahnya lebih banyak dan teratur, bertingkat dua, dan dihiasi dengan ukiran.
***
JENIS TONGKONAN
Beberapa jenis tongkonan yang dikenal masyarakat Tana Toraja disesuaikan dengan peranan penguasanya, yaitu tongkonan layuk, tongkonan pekaindoran, dan tongkonan batu a’riri. Bentuk ketiga tongkonan ini serupa, hanya saja terdapat perbedaan pada tiang. Tongkonan layuk dan tongkonan pekaindoran memiliki tiang tengah yang disebut a’riri posidisamping hiasan berbentuk kepala kerbau (kabogo) dan kepala ayam (katik),
Tongkonan Layuk (maha tinggi/agung)
Merupakan tongkonan yang pertama kali menjadi pusat perintah dan kekuasaan dengan peraturan Tana Toraja dahulu kala.
Tongkonan Pekaindoran (Tongkonan Kaparengngesan)
Tongkonan yang didirikan penguasa masing-masing daerah untuk mengatur pemerintahan adat berdasarkan aturan tongkonan aluk.
Tongkonan Batu A’riri
Tongkonan yang berfungsi sebagai tali ikatan dalam membina persatuan dan warisan keluarga.
***
Umumnya tongkonan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 2:1 dan memiliki 5 bagian struktur bangunan, yaitu :
pondasi,
tiang,
lantai,
dinding, dan
atap.
Lantai rumah terdiri dari 3 lapis. Dinding rumah terdiri dari papan yang diikat dengan pengikat yang disebut sambo rinding. Atap rumah terbuat dari bambu. Ornamen dan motif yang digunakan memiliki makna cara hidup masyarakat Toraja. Warna yang dominan digunakan antara lain merah, putih, kuning, dan hitam. Merah berarti warna kehidupan, putih adalah warna daging dan tulang manusia, kuning melambangkan kemuliaan dan ketuhanan juga pengabdian, serta warna hitam yang menyimbolkan kesedihan dan kematian.
Photo by : shyehariyanto (www.instagram.com/shyehariyanto)
TATA RUANG
Tata ruang rumah Toraja secara tradisional dikelompokkan menjadi lima bagian, yaitu:
Banua sang borong/sang lanta
Sebuah ruangan yang berfungsi untuk berbagai macam kebutuhan,
Banua Duang Lanta
Rumah dengan dua ruang, yaitu satu ruang tidur disebut sumbung dan ruang sali untuk ruang kerja, dapur dan tempat meletakkan jenazah sementara.
Banua Patang Lanta
Rumah dengan 4 ruang, terdiri dari dua jenis yaitu:
Banua Di Lalang Tedong terdiri dari ‘sali iring’ (ruang dapur, ruang kerja, tempat tidur abdi adat, dan tempat menerima tamu).
Sali Tangga terdiri dari tempat kerja, ruang tidur keluarga dan tempat jenazah yang akan diupacarakan.
Sumbung (ruang tidur pemangku adat)
Inan Kabusung (ruang tertutup yang dibuka kalau ada upacara).
Banua Di Salombe
terdiri dari:
Palanta/tangdo (ruang pemuka adat dan tempat upacara penyembahan)
Sali Tangga (tempat bekerja dan tempat jenazah sementara),
Sumbung (ruang tidur pemuka adat).
Banua Limang Lanta
Rumah yang terdiri atas lima ruang, yaitu :
palata (ruang duduk dan tempat saji-sajian),
sali iring (dapur, tempat makan dan tempat tidur adat),
paluang (tempat bekerja dan meletakkan jenazah),
anginan (ruang tidur), dan
sumbung kabusungan (ruang tempat menyimpan pusaka adat).
Sumber: Suhardi dan Rahardjo, Joko Mudji. 2000. Tana Toraja dan Masyarakatnya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Indonesia Menang Best National Costume di Ajang Miss Supranational 2015
Kabar bahagia yang membuat kita bangga datang dari ajang Miss Supranational 2015. Adalah wakil Indonesia, Gresya Amanda dengan busana bertema Toraja dipilih sebagai pemenang Best National Costume.
Amanda menggunakan kostum bertema Mystical Toraja berbobot 16 kg karya Dynand Fariz dan tim Jember Fashion Carnival. Kostum ini terinspirasi dari salah satu kekayaan budaya tertua di Indonesia yaitu Toraja, dengan rumahnya yang unik (Tongkonan).
Gresya Amanda Maaliwunga atau akrab disapa Manda mewakili Indonesia di ajang Miss Supranatural di Polandia setelah terpilih sebagai Putri Pariwisata Indonesia pada februari 2015. Melalui akun instagram miliknya, Amanda menyampaikan rasa bahagia dan terima kasih berkat prestasi yang berhasil ia raih.
“Sekali lagi terimakasih banyak kepada @officialputeriindonesia dan @jemberfashioncarnacal for the stunning Mystical Toraja, yes we’re chosen to be the best national costume, Miss Supranational 2015!,” – Gresya pada keterangan foto instagramnya.
Sumber : www.globalbeauties.com
Kita harus bangga dan bersyukur atas keberhasilan Amanda yang semakin menggaungkan nama Toraja di dunia internasional. Dengan demikian, masyarakat dunia tidak (akan) hanya mengenal Toraja dengan “kematiannya” saja, melainkan Toraja yang kaya dengan seni budaya dan keindahan alamnya.
Semoga keberhasilan Amanda menjadi “alat provokasi” atau “obat perangsang” bagi generasi Toraja dalam menjaga warisan budaya leluhur. Salah satu cara adalah dengan karya yang bermanfaat, bisa melalui tulisan, seni lukis, desain busana atau film.
Perlu kita sadari bahwa Toraja mengandung nilai seni yang mahal. Ini adalah peluang potensial di pasar industri kreatif. Sudah beberapa brand yang lahir seperti Toraja Melo dan Tedong Simpo walau sebenarnya masih banyak yang “tertimbun”. Hanya saja, perlu diimani bahwa “menjual Toraja” jangan utamakan nilai materi yang bisa kita dapat, tetapi rasa cinta karena seharusnya kita bersyukur, semesta menghadiahkan surga di dunia bernama Toraja.
Ohy, tidak lupa selamat buat Amanda dan mereka yang berkarya untuk busana Mystical Toraja! Indonesia Bangga!
Tari Kreasi Pagellu' dipentaskan saat Toraja International Festival 2015, Ke'te' Kesu, Toraja Utara (Credit: Fatra Lobo Rantepasang)
TARI PAGELLU’ adalah Tarian khas dari daerah Toraja. Penarinya terdiri atas gadis-gadis remaja. Berbaju putih dengan hiasan keemasan, mulai dari kepala sampai sarung yang menutup rapat bagian tubuh sebelah bawah. Memakai kalung manik-manik yang teranyam indah, dan memakai dua bilah keris di bagian depan. Gerakan tangannya seperti burung yang sementara terbang dengan tenangnya dan gerakan kaki menggambarkan perjalanan naik turun lembah dan bukit, yang melukiskan keadaan alam Toraja. Genderang dan bunyi-bunyian yang mengikuti tarian itu bernada tinggi (monoton) arkais.
REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — “Toraja International Festival (TIF)” akan kembali digelar pada 13-16 Agustus 2015 di Rantepao, Kabupaten Toraja Utara. Sejumlah musisi dunia akan hadir memeriahkan acara yang dikemas dalam tema Mabugi (kesenian khas Toraja).
“Sesuai dengan namanya, TIF adalah sebuah festival internasional yang bertujuan untuk membawa berbagai grup dan bentuk kesenian dunia datang ke Tanah Toraja,” kata Marketing Communicaton (Marcom) Manager TIF, Prity Saraswati.
Mewakili Direktur TIF Franki Raden, Prity menjelaskan, TIF 2015 merupakan penyelenggaraan tahun ketiga dan tahun ini mendatangkan para musisi luar negeri dari sejumlah negara.
Musisi dunia yang dihadirkan antara lain Gotrasawala Ensemble dan Ana Alcaide (Spanyol), BoiAkih (Belanda), Ron Reeves (Australia), Helga Sedli (Hongaria), dan Yzbegim Yoshlari (Uzbekistan).
Untuk peserta TIF dari Ibukota antara lain sebuah grup anak muda Jakarta yang sudah melanglang buana seperti ‘Konokini’ yang menjadi perhatian media melalui Eco Music Camp yang di selenggarakan di Taman Buah Mekarsari, Bogor.
“Dengan memboyong grup musik ternama dari dalam dan luar negeri, TIF diyakini akan semakin menjadi pusat perhatian dunia dan media massa,” harapnya.
Selain menampilkan musisi dunia, pagelaran kesenian toraja mengangkat tema ‘Mabugi’ juga akan disajikan sebagai inti dari rangkaian kegiatan tersebut.
“Mabugi adalah sebuah rangkaian tarian dan nyanyian kolosal dikemas dalam bentuk teaterikal yang sangat unik. Mabugi hanya terdapat di wilayah Rantepao. Tarian-nyanyian ini nantinya akan tampil sebagai bagian yang penting dalam acara nanti,” tutur Prity.
Menurut dia, Mabugi akan ditampilkan pada pembukaan kolosal TIF yang berjudul ‘Toraja Symphony’.
Selain Mabugi, TIF akan menampilkan Karombi, Manganda, Menimbong, Pageludan Pompang, serta grup musik non-tradisional Toraja seperti Toraja Choir dan Tibaen Ballo.
Pihaknya berharap Toraja dapat menjadi ikon dari pertemuan budaya segala bangsa di dunia sebagaimana halnya dengan Indonesia sendiri.
Selain pertunjukan kesenian lainnya, TIF juga memiliki program menarik lain seperti Wisata Tenunan Toraja atau Sa’adan pada 13 Agustus, Pameran Kerajinan Toraja Kete Kesu, 14-16 Agustus, Pesta Makanan dan Pojok Kopi Toraja 13-16 Agustus 2015.
“Program yang sangat beragam ini diharapkan akan membuat para pengunjung TIF mendapatkan sebuah kenangan dan pengalaman yang sangat berkesan selama empat hari mengunjungi Tanah Toraja,” tambahnya.
sumber : http://gayahidup.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/15/08/14/nt1o4x280-mabugi-jadi-tema-toraja-international-festival-2015